Malam ini aku kembali
membuka buku catatan harianku. Kubaca kembali memori-memori indah yang pernah
kutulis disana. Sepintas aku teringat Messi. Aku merindukannya.
“Apa yang kau lakukan?”
tanya Daniel menghampiriku.
“Merindukan Messi,”
jawabku lirih.
Daniel mengembuskan
napas panjang. Dia menatapku tajam. “Kau melakukannya lagi!”
“Kenapa?”
“Kau pikir aku tidak
cemburu melihatmu merindukan lelaki lain? Apakah aku kurang cukup?!” teriaknya
tepat di depanku.
Aku beranjak berdiri. Aku
berganti menatapnya dengan sorotan tajam. “Kau pikir aku sedang memikirkan
siapa? Messi itu betina, bukan lelaki!”
Lalu, aku pergi meninggalkannya
dan melempar tepat di wajahnya selembar foto anjing kesayanganku yang terselip
dalam buku catatan harianku.
Liana menghentikan
langkahnya ketika musuh bebuyutannya menghalangi jalannya.
“Kamu tidak pantas
kuliah disini. Murid beasiswa saja belagu!” cerca Jeremy sembari pergi
meninggalkannya.
Liana hanya menggeleng
perlahan, berusaha sabar. Lalu dia melangkah kembali menuju kelasnya. Di meja,
dia mendapatkan setangkai mawar putih dengan kartu ucapan I Love You, Liana. Dia
mengamati sekitar ruangan. Tak ada siapapun.
Tak lama, menyusul
Jeremy yang masuk di kelas yang sama. Dia meletakkan tas ranselnya di bangku
lalu keluar lagi dengan wajah yang tak mengenakkan. Sesaat, ketika Liana hendak
keluar, dia menyenggol tas milik Jeremy yang setengah terbuka. Akhirnya, belasan
tangkai mawar putih berserakan. Liana terdiam.
Laura berdiri di depan
rumah Panji, kekasihnya. Dia hendak mengetuk pintu, namun niat itu diurungkannya.
Sejenak dia ragu akan kedatangannya menemui Panji. Rasa takut tiba-tiba datang menghampirinya.
“Sudah, katakan saja
yang sebenarnya terjadi,” ujar Sarah lembut.
Laura mengamati jari
manisnya. Tak ada cincin pertunangannya disana. Dia benar-benar stress setelah
berhari-hari mencari cincin yang tiba-tiba lenyap dari jarinya, di malam saat
dia tertidur lelap.
“Sayang, kenapa?” tanya Panji yang tiba-tiba sudah
membuka pintu.
Laura murung. “Maaf,
cincin pertunangan kita hilang.”
“Sabar, Nji. Laura tidak
sengaja.” Sarah menepuk bahu Panji yang lebih tinggi darinya. Seketika, sebuah
cincin permata terjatuh dari saku jaketnya.
Silakan Tinggalkan Jejak dan untuk Menjaga Sportivitas Antar Sesama Blogger, BUDAYAKAN cantumkan SUMBER saat copy-paste seluruh isi dari blog ini, ya :)